Independen News

Filosofi 'Rasa' Jadi Puncak Peradaban Sunda, KDM: Lebih Tinggi dari Aturan Tertulis!​

Gubernur Jawa barat,  Dedy Mulyadi

Bandung,Varia Independen- Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), menekankan pentingnya menghidupkan kembali nilai-nilai luhur budaya Sunda dalam kehidupan modern. Menurutnya, puncak tertinggi dari peradaban masyarakat Sunda bukanlah terletak pada dokumen tertulis atau aturan formal, melainkan pada kepekaan "rasa".

​Hal tersebut disampaikan KDM saat menghadiri Dies Natalis ke-58 Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung. Dalam orasinya, pria yang akrab disapa Kang Dedi ini mengajak civitas akademika untuk melihat kembali akar kebudayaan sebagai kompas kehidupan.

​'Rasa' di Atas Aturan

​KDM menjelaskan bahwa dalam falsafah Sunda, "rasa" merupakan instrumen utama untuk memahami kehidupan. Ketika seseorang sudah memiliki ketajaman rasa, maka ia tidak lagi membutuhkan paksaan aturan untuk berbuat baik.

​"Peradaban tertinggi masyarakat Sunda itu terletak pada rasa, bukan sekadar tulisan maupun aturan. Nilai-nilai kehidupan dihayati melalui kepekaan terhadap alam, sesama manusia, dan diri sendiri," ujar KDM dalam unggahan di akun resmi Pemprov Jabar, dikutip Kamis (9/4/2026).

​Menjaga Keseimbangan Alam

​Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa implementasi dari kekuatan rasa ini terlihat nyata dalam pola hidup tradisional Sunda. Salah satu contoh yang paling kentara adalah arsitektur rumah panggung dan kearifan lokal dalam menjaga ekosistem.

​Berikut adalah poin-poin utama yang ditekankan KDM mengenai nilai budaya Sunda:

  • Penghayatan Indrawi: Nilai hidup dipahami melalui proses melihat, mendengar, dan merasakan secara mendalam.
  • Harmoni Alam: Larangan merusak alam bukan sekadar aturan hukum, tapi bentuk kesadaran untuk menjaga keseimbangan antara manusia dan lingkungannya.
  • Kearifan Lokal: Arsitektur seperti rumah panggung bukan tanpa alasan, melainkan bentuk adaptasi dan rasa hormat terhadap kontur bumi.

​Relevansi di Era Modern

​Di hadapan para mahasiswa dan dosen UIN Bandung, KDM berpesan agar nilai-nilai ini tidak hilang ditelan zaman. Menurutnya, di tengah dunia yang semakin teknokratis dan kaku, sentuhan "rasa" akan menjadi pembeda yang membuat peradaban tetap manusiawi.

​"Dari rumah panggung hingga larangan merusak alam, semua mencerminkan kearifan lokal yang perlu terus kita jaga sebagai identitas jati diri," pungkasnya.

​Acara Dies Natalis ini pun menjadi momentum bagi kampus untuk terus mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan kearifan lokal (local wisdom) demi membangun peradaban yang inklusif dan berkelanjutan.

Editor   : Gunawan


Type and hit Enter to search

Close